pengertian wawancara menurut para ahli

Halo selamat datang di daewoong.co.id!

Wawancara merupakan salah satu metode komunikasi yang penting dalam dunia jurnalistik, riset, dan pengumpulan informasi. Dalam proses wawancara, seorang pewawancara bertanya kepada narasumber untuk mendapatkan informasi atau pendapat mengenai suatu topik atau peristiwa tertentu. Wawancara juga dapat dilakukan dalam berbagai konteks, termasuk dalam dunia bisnis, pendidikan, dan penelitian.

Dalam artikel ini, kami akan mengulas secara detail pengertian wawancara menurut beberapa para ahli yang diakui kompetensinya dalam bidang ini. Kami akan memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai kelebihan dan kekurangan dari pengertian wawancara tersebut, serta menyajikan tabel berisi semua informasi yang lengkap tentang topik ini. Disamping itu, kami juga akan mencantumkan beberapa pertanyaan yang sering diajukan mengenai wawancara, beserta kesimpulan yang dapat mendorong pembaca untuk mengambil tindakan.

Pendahuluan

Pada bagian ini, kita akan mengulas pengertian wawancara menurut para ahli dari berbagai sudut pandang. Mengutip definisi yang diberikan oleh beberapa ahli, wawancara adalah suatu proses komunikasi yang melibatkan interaksi antara pewawancara dan narasumber, di mana pewawancara bertanya dan narasumber memberikan jawaban secara verbal atau tulisan yang berlandaskan pada pemberian fakta, pendapat, atau pengalaman pribadi narasumber mengenai topik yang dibahas. Wawancara merupakan metode yang penting dan efektif dalam menggali informasi, mengajukan pertanyaan yang relevan, serta mendapatkan perspektif yang berbeda terhadap suatu masalah atau peristiwa.

Wawancara memiliki beberapa jenis, seperti wawancara terstruktur, semi-terstruktur, dan tidak terstruktur. Wawancara terstruktur dilakukan dengan pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya, sedangkan wawancara semi-terstruktur memberikan keleluasaan pada pewawancara untuk mengeksplorasi topik yang lebih mendalam. Sementara itu, wawancara tidak terstruktur lebih bersifat spontan dan fleksibel, di mana pewawancara dan narasumber dapat berinteraksi secara bebas tanpa adanya panduan pertanyaan yang terlalu spesifik.

Selain itu, peran pewawancara sangat penting dalam menentukan kesuksesan sebuah wawancara. Seorang pewawancara yang baik harus memiliki keterampilan komunikasi yang baik, mampu membuat narasumber merasa nyaman dan terbuka, serta memiliki kepekaan dan wawasan yang mendalam terhadap topik yang akan dibahas. Pewawancara juga perlu berfokus pada tujuan wawancara, serta mampu mengajukan pertanyaan yang relevan dan menangkap informasi dengan baik.

Dalam konteks jurnalistik, wawancara sangat penting dalam mendapatkan berita yang akurat dan berimbang. Wawancara dapat membantu jurnalis untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam dari narasumber, serta melibatkan variasi perspektif dalam pemberitaan. Dengan demikian, hasil wawancara yang baik dapat meningkatkan kualitas dan kredibilitas suatu laporan berita.

Demikianlah pendahuluan mengenai pengertian wawancara menurut para ahli. Selanjutnya, kita akan mengulas beberapa kelebihan dan kekurangan dari metode wawancara ini secara lebih rinci.

Kelebihan dan Kekurangan Pengertian Wawancara Menurut Para Ahli

Setiap metode komunikasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Begitu pula dengan wawancara. Berikut ini adalah beberapa kelebihan dan kekurangan dari pengertian wawancara menurut para ahli.

Kelebihan Wawancara Menurut Para Ahli

  1. Pendekatan personal: Wawancara dapat menciptakan hubungan personal antara pewawancara dan narasumber, sehingga dapat meningkatkan keterbukaan dan kepercayaan dari narasumber. Hal ini dapat membantu narasumber merasa lebih nyaman untuk memberikan informasi yang lebih dalam dan akurat.
  2. Penggalian informasi mendalam: Dalam wawancara, pewawancara dapat mengajukan pertanyaan yang mendalam dan spesifik mengenai topik yang dibahas. Hal ini memungkinkan pewawancara untuk mendapatkan informasi yang komprehensif dan menyeluruh, serta menggali perspektif dan pemahaman yang lebih dalam terhadap topik tersebut.
  3. Relevansi dalam pertanyaan: Dalam wawancara, pewawancara dapat menyesuaikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan latar belakang dan pengalaman narasumber. Hal ini memungkinkan pewawancara untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dan sesuai dengan sudut pandang narasumber, sehingga dapat mendapatkan informasi yang lebih kaya dan nuansa yang beragam.
  4. Validitas informasi: Wawancara juga dapat membantu menghasilkan informasi yang lebih valid dan akurat. Dalam wawancara, pewawancara dapat mengoreksi dan mengklarifikasi informasi yang disampaikan oleh narasumber, serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan tambahan untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan memiliki keabsahan dan keotentikan yang tinggi.
  5. Fleksibilitas dalam proses: Wawancara juga merupakan metode yang fleksibel. Pewawancara dapat menyesuaikan gaya dan pendekatan komunikasi mereka dengan narasumber, sesuai dengan situasi dan kebutuhan yang ada. Hal ini memungkinkan pengumpulan informasi yang lebih luas dan beragam, serta memperkuat keterlibatan narasumber dalam proses wawancara.
  6. Menyusun narasi: Dalam wawancara, pewawancara dapat mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan aspek emosional, kultural, atau sejarah dari narasumber. Hal ini memungkinkan pembentukan narasi yang lebih kaya dan beragam, serta memberikan nuansa dan perspektif yang lebih dalam dalam laporan atau penelitian yang dilakukan.
  7. Peningkatan hubungan dan jaringan: Wawancara juga dapat menjadi sarana untuk memperluas jaringan kontak dan hubungan dengan narasumber. Dalam proses wawancara, pewawancara dapat menjalin hubungan yang baik dengan narasumber, sehingga dapat membuka pintu untuk kolaborasi masa depan, kerja sama, atau kesempatan lain yang bermanfaat.

Kekurangan Wawancara Menurut Para Ahli

  1. Pengaruh pewawancara: Dalam wawancara, peran dan prasangka pewawancara dapat mempengaruhi jawaban dari narasumber. Beberapa hal seperti nada suara, ekspresi wajah, atau sikap pewawancara dapat mempengaruhi cara narasumber memberikan respons terhadap pertanyaan yang diajukan. Hal ini dapat menghasilkan informasi yang bias atau subjektif.
  2. Terbatasnya jumlah narasumber: Wawancara seringkali melibatkan jumlah narasumber yang terbatas. Hal ini dapat membatasi variasi perspektif dan pendapat yang didapatkan dalam wawancara. Dalam beberapa kasus, informasi yang diperoleh dari narasumber yang terbatas dapat menghasilkan sudut pandang yang kurang lengkap atau analisis yang terbatas.
  3. Waktu dan biaya: Proses wawancara dapat memakan waktu dan biaya yang cukup besar, terutama jika melibatkan narasumber yang berada di tempat yang jauh atau sulit dijangkau. Hal ini dapat menjadi kendala dalam melakukan wawancara, terutama untuk penelitian atau proyek dengan keterbatasan anggaran dan waktu yang ketat.
  4. Informasi yang terlalu bergantung pada narasumber: Dalam wawancara, informasi yang diperoleh hanya bergantung pada narasumber, sehingga sumber informasi dapat menjadi tidak objektif atau terbatas. Hal ini dapat mempengaruhi keabsahan dan keakuratan informasi yang diperoleh, terutama jika narasumber memiliki kepentingan tertentu atau memiliki sudut pandang yang terbatas.
  5. Keterbatasan dalam analisis waktu nyata: Wawancara seringkali menghasilkan jumlah data yang besar dan kompleks. Hal ini dapat membutuhkan waktu dan upaya yang signifikan untuk menganalisis data wawancara dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Jika data tidak dianalisis dengan baik, maka risiko penafsiran yang salah atau keliru dapat meningkat.
  6. Keterbatasan dalam generalisasi: Hasil wawancara yang diperoleh dari satu narasumber tidak dapat digeneralisasi secara luas ke populasi. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan jumlah narasumber yang terlibat dalam wawancara, sehingga temuan yang diperoleh dalam wawancara dapat memiliki keunikan atau kekhasan yang spesifik untuk situasi atau konteks tertentu.
  7. Kesalahan memori narasumber: Memori narasumber tidak selalu dapat diandalkan. Dalam wawancara, narasumber dapat mengalami kesalahan atau kelupaan dalam mengingat fakta-fakta atau peristiwa yang terjadi di masa lalu. Hal ini dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat atau tidak lengkap, yang kemudian dapat menurunkan validitas dan kredibilitas hasil wawancara.

Tabel Pengertian Wawancara Menurut Para Ahli

Ahli Pengertian Wawancara
McCracken (1988) Proses komunikasi yang terstruktur di mana pewawancara meminta narasumber memberikan tanggapan terhadap pertanyaan-pertanyaan tertentu, dengan tujuan memahami pandangan, perilaku, atau pengalaman narasumber mengenai suatu topik.
Fontana dan Frey (2005) Proses interaksi antara pewawancara dan narasumber, di mana pewawancara bertanya serta mendengarkan narasumber untuk memperoleh informasi mengenai topik yang sedang berlangsung.
Rubin dan Rubin (1995) Metode komunikasi formal yang digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai topik spesifik, melibatkan pertanyaan dan jawaban antara pewawancara dan narasumber, dan terjadi dalam konteks yang direncanakan dan dikendalikan.
Seidman (2013) Proses dialog yang sistematis, terarah, dan terstruktur yang melibatkan interaksi antara pewawancara dan narasumber dengan tujuan menggali pengetahuan, pemahaman, atau informasi tentang suatu topik.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan mengenai wawancara:

  1. 1. Apa dampak dari wawancara terhadap penyajian berita?
  2. 2. Bagaimana cara mempertahankan kesantunan dalam melakukan wawancara?
  3. 3. Apa saja jenis-jenis wawancara yang umum digunakan?
  4. 4. Bisakah kita melakukan wawancara dengan menggunakan surat atau email?
  5. 5. Apa saja keterampilan yang diperlukan untuk menjadi pewawancara yang baik?
  6. 6. Bagaimana cara mengatasi kecemasan dalam melakukan wawancara?
  7. 7. Bagaimana pentingnya persiapan sebelum melakukan wawancara?
  8. 8. Apa yang harus dilakukan jika narasumber enggan untuk menjawab pertanyaan?
  9. 9. Bagaimana cara mengatasi tanggapan negatif dari narasumber?
  10. 10. Bagaimana cara mencatat informasi dengan efektif selama wawancara?
  11. 11. Apakah dapat melakukan wawancara berulang dengan narasumber yang sama?
  12. 12. Apa perbedaan antara wawancara langsung dan telepon?
  13. 13. Apakah ada etika yang perlu diperhatikan dalam melakukan wawancara?

Kesimpulan

Setelah mengulas pengertian wawancara menurut para ahli, dapat disimpulkan bahwa wawancara adalah suatu proses komunikasi yang melibatkan interaksi antara pewawancara dan narasumber untuk mendapatkan informasi atau pendapat mengenai suatu topik atau peristiwa tertentu. Wawancara memiliki banyak kelebihan, seperti pendekatan personal, penggalian informasi mendalam, dan peningkatan hubungan dan jaringan. Namun, wawancara juga memiliki kekurangan seperti pengaruh pewawancara dan keterbatasan jumlah narasumber.

Dalam melakukan wawancara, penting untuk memiliki keterampilan komunikasi yang baik, melakukan persiapan dengan matang, dan bersikap etis. Dalam hal ini, pewawancara perlu mengajukan pertanyaan dengan relevan, mendengarkan dengan aktif, dan memastikan bahwa informasi yang diperoleh valid dan akurat. Dengan demikian, wawancara dapat menjadi metode yang efektif dan berharga dalam pengumpulan informasi, serta memberikan informasi yang berimbang dan bermanfaat kepada pembaca atau pemirsa.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai wawancara, dapat mengacu pada sumber-sumber referensi yang telah disebutkan dalam artikel ini. Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca dalam memahami pengertian wawancara menurut para ahli.

Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan untuk memberikan informasi umum dan tidak dimaksudkan sebagai saran profesional. Sebaiknya konsultasikan dengan ahli terkait untuk informasi lebih lanjut.